Archive for the ‘materi tarbiyah’

BAHAYA RIYA !02.08.10

Riya berasal dari kata ru’yah (penglihatan) sebagaimana sum’ah berasal dari kata sam’u (pendengaran) dari sekedar makna bahasa ini bisa difahami bahwa riya adalah ingin diperhatikan atau dilihat orang lain. Dan para ulama mendefiniskan riya adalah menginginkan kedudukan dan posisi di hati manusia dengan memperlihatkan berbagai kebaikan kepada mereka.

Dari definisi tersebut jelas bahwa dasar perbuatan riya’ adalah untuk mencari keredhoan, penghargaan, pujian, kedukan atau posisi di hati manusia semata dalam suatu amal kebaikan atau ibadah yang dilakukannya.

Lebih jauh, Nabi Muhammad menyamakan amal dengan ria itu dengan syirik. Kata Nabi, Sesuatu yang paling aku takuti terjadi padamu sekalian adalah penyakit syirik kecil. Para sahabat bertanya, Apa itu syirki kecil? Nabi menjawab, Itulah ria.

Sering keberadaan riya ini luput dari pengamatan dan perasaan seseorang dikarenakan begitu halusnya sehingga ada yang mengibaratkan bahwa ia lebih halus daripada seekor semut hitam diatas batu hitam di tengah malam yang gelap gulita. Padahal keberadaan riya dalam suatu amal amatlah berbahaya dikarenakan ia dapat menghapuskan pahala dari amal tersebut.

Ada empat ciri orang yang (beramal) riya: malas beramal jika bersendirian, bersemangat beramal bila di depan orang, bertambah amalnya jika dipuji dan menguranginya jika dicela ( Saidina Ali bin Abi Talib).

Bahaya Riya

Ada beberapa penjelasan tentang bahaya riya’, dan pengaruh buruk (dampak negatifnya) bagi individu, umat dan amal perbuatan, seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an dan Sunnah.

Berikut ini perinciannya :
Rasulullah S.A.W menjelaskan bahwa bahaya riya’ memiliki tingkatan yang bermacam macam, dan diungkapkan dengan ungkapan yang bermacam, diantaranya :

a. Bagi orang orang Muslim, riya’ lebih bahaya dari fitnah Al Masih Ad Dajjal
Bahaya Masih Ad Dajjal tidak melanda orang yang akrab dengan Sunnah Rasulullah S.A.W. Oleh karenanya riya’ lebih besar bahaya bagi seorang Muslim.

Nabi S.A.W bersabda,
“Maukah kamu aku beritakan kabar yang bagiku lebih berbahaya bagi kalian dibanding dengan Al Masih Ad Dajjal; yaitu syirik Al Khafi. Yaitu ketika seseorang berdiri untuk menunaikan shalat, kemudian ia memperindah shalatnya karena ada orang lain yang melihatnya” (Hadits riwayat Ibnu Majjah (4204) dan perawi lainnya dari hadits Abi Said Al Khudari R.A. Hadits ini berkualitas hasan).

b. Riya’ lebih besar bahayanya dari serigala yang mengintai kambing.

Nabi S.A.W bersabda,
“Dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah kerumunan kambing, bahayanya tidak lebih besar dari kerakusan manusia terhadap harta, membanggakan agamanya (riya’) (Hadits diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi 2376, Imam Ahmad (3/456, 460), Imam Ad Darami 2/304, Imam Al Baghawi dalam Syarh sunnah 14/258, dan para perawi lainnya. Saya katakana, hadits ini dishahihkan oleh Imam At Tirmidzi. Ini seperti yang pernah dikatakan. Meskipun Zakariya Abu Zaidah seorang yang mudallas, tetapi ini telah dijelaskan dengan pembicaraan Bukhari dalam kitab Tarikh Al Kabir 1/150).

Ini adalah perumpamaan (analogi) yang dibuat Rasulullah S.A.W mengenai kerusakan agama seseorang karena menjaga harta dan kemuliaan duniawi. Dua hal inilah yang menggerakkan dan memotori sikap riya’ pada jiwa seseorang. Berbeda dengan kerusakan pada kambing karena adanya dua ekor serigala yang lapar yang mau menerkam kambing. Penjagaannya (kekhawatiran dari) akan hilang ketika malam datang. Kedua serigala tersebut makan dan mengambil apa yang menguntungkan baginya. Keburukan yang dimunculkannya hanya sedikit. Bahkan sangat sedikit, tidak seperti riya’. Maka hindarilah riya’.

Bahaya Riya’ bagi Amal Perbuatan

a. Menyia nyiakan amal shalih, dari pengaruh baiknnya dan tujuan luhurnya
Islam bukanlah agama yang menampakkan hal hal luar dan seremonial, karena menampakkan ibadah dan syi’ar itu tidak mencukupi selama tidak bersumber dari keikhlasan karena Allah semata. Ikhlas sangat berpengaruh dalam lubuk hati, mendorong untuk melakukan amal shalih, menerapkan sebuah metode yang dapat memperbaiki kehidupan manusia di dunia ini.
Ketika iman telah kokoh tertanam dalam hati, maka ia akan bergerak cepat agar zat iman itu terealisasi dalam bentuk amal shalih.

Oleh karena hakikat pendidikan yang penting ini, Allah mengisyaratkan dalam firmanNya,
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki Balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Al Insaan : 8-9)

Sesungguhnya orang yang ikhlas adalah ibarat oase, yang meneduhi riya’ yang merusak. Orang ikhlas akan makan makanan dengan ketenangan jiwa, hati yang penuh kasih, niat yang ikhlas dan semata mata karena Allah. Ini dinampakkan dalam tingkah laku dan ucapan hatinya.

Petunjuk (isyarah) dari Al Qur’an ini akan menghancurkan kekerasan riya’ yang menebarkan bau busuk pada hati pemiliknya, dan tidak akan membuka sesuatu kelemahan, meskipun pemiliknya menyerahkan sesuatu dengan segala kebanggaan. Adapun di jalan Allah, mereka akan melarang meskipun untuk hal yang sangat remeh, dan tidak mendatangi manusia karena menjadi pengikat.

Allah S.W.T berfirman,
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya, Dan enggan (menolong dengan) barang berguna” (Al Maa’uun : 4-7)
Orang orang yang berbuat riya’ dan enggan menolong dengan barang berguna karena shalat mereka tidak menampakkan pengaruh positif pada diri mereka. Mereka menghalang pertolongan dan kebaikan dari hamba Allah. Apabila mereka menunaikan shalat semata mata karena Allah, pasti mereka tidak sungkan dan segan memberi pertolongan kepada hamba hambaNya yang membutuhkan.

Ini adalah parameter sesungguhnya untuk ibadah yang benar yang diterima di sisi Allah.

Mereka hanya melakukan gerakan gerakan dan ritual shalat semata. Mereka memperbagus dan memperindah shalatnya karena ada orang lain yang melihatnnya. Akan tetapi hati mereka tidak ikhlas dan tulus melakukannya, dan tidak menghadirkan hakikat dari shalat. Tidak merasakan keagungan Allah yang ada di depannya. Oleh karenanya dalam hati dan perbuatannya, sedikitpun tidak tertinggal pengaruh shalat.

Ini adalah riya’, yang meninggalkan amal perbuatan yang baik, dengan mengubahnya menjadi amal yang tidak baik.

b. Membatalkan amal shalih dan meleburnya

Allah S.W.T berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (Al Baqarah : 264)

Ini adalah hati yang keras yang telah diselimuti riya’. Perumpamaannya seperti safwan diselimuti debu-debu (Safwan adalah batu yang tidak kasar dan tidak terlalu licin permukaannya yang ditutupi oleh debu yang halus). Demikian pula riya’ menghalangi pandangan mata yang dapat menipu, seperti riya’ menghalangi kekerasan hati yang tidak memiliki iman. Kemudian hujan lebat yang menghilangkan debu debu tersebut, dan terbukalah auratnya serta tersingkaplah kegersangan dan kekerasannya. Tumbuhan pun tidak akan tumbuh, apalagi berbuah. Karena ia merupakan batu keras yang tergeletak di atas tanah. Ia tidak memiliki ketetapan. Seperti orang riya’ tidak akan membuahkan kebaikan. Tidak akan diringi dengan ganjaran bahkan mendatangkan dosa besar yang menunggu kejelekan yang berubah pada hari dimana harta dan anak tidak akan bermanfaat sama sekali kecuali orang yang dating kepada Allah dengan hati yang pasrah.

Ini adalah puncak dari riya’, yang akan melebur amal yang baik, pada saat pemiliknya tidak memiliki kekuatan dan penolong, dan karenanya ia tidak dapat menolak. Renungkanlah firman Allah S.W.T berikut,

“Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang Dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya” (Al Baqarah : 266).

Amal shalih ini pada mulanya adalah oase dan lampu yang menerangi kegelapan, surga yang indah yang memilikii aroma dan keteduhan, kebaikan dan keberkahan, zakat dan pembersihan. Orang yang menginginkan mendapatkan surga surga ini, kemudian melakukan riya’, maka riya’ itu meleburnya seolah olah sebelumnya tidak pernah ada.

Nabi S.A.W bersabda,
“Sesungguhnya hal yang sangat aku khawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik al ashar (syirik kecil), yaitu riya’. Pada hari Kiamat Allah berfirman ketika membalas amal amal perbuatan manusia,’Pergilah kalian kepada orang orang yang kalian pamerkan sewaktu di dunia. Lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan (bagian) dari mereka’.” (Hadits riwayat Imam Ahmad 5/428, Imam Baghawi dalam Syarh Sunnah 4135, dari hadits Mahmud bin Lubeid R.A, dnegan isnad shahih, sesuai syarat Imam Muslim.)
Pada waktu itu, orang orang yang riya’ kemudian membalikkan tangannya dengan sesuatu yang telah dinafkahkannya kepada manusia dengan riya’. Lalu Allah memperlihatkan amal amalnya sebagai kerugian.

Wahai saudara seiman, hindarilah riya’ karena ia akan menghancurkan amal perbuatan.

Bahaya Riya’ bagi Umat dan Individu

a. Riya’ adalah syirik khafi.

Nabi S.A.W bersabda,
“Maukah kamu aku beritakan kabar yang bagiku lebih berbahaya bagi kalian dibanding dengan Al Masih Ad Dajjal; yaitu syirik Al Khafi. Yaitu ketika seseorang berdiri untuk menunaikan shalat, kemudian ia memperindah shalatnya karena ada orang lain yang melihatnya” (Hadits riwayat Ibnu Majjah (4204) dan perawi lainnya dari hadits Abi Said Al Khudari R.A. Hadits ini berkualitas hasan).

b. Riya’ mewariskan kehinaan dan kekerdilan.

Wahai hamba yang ikhlas, janganlah kamu terbujuk oleh tipu daya orang yang riya’ di suatu Negara, kemampuan mereka menguasai hamba, banyaknya kendaraan mereka dan kemewahan kendaraan mereka, karena bayang bayang maksiat ada diatas tengkuk mereka. Allah menolak, kecuali orang orang yangmelindungi orang orang yang durhaka kepadaNya.

Nabi S.A.W bersabda,
“Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya kepada manusia, maka Allah akan memperdengarkan pendengaran makhluknya kepadanya, mengerdilkan dan merendahkannya” (Shahih Targhib wa Al targhib (1/6)

c. Riya’ menghalangi pahala akhirat.

Nabi S.A.W bersabda,
“Gembirakanlah umat ini dengan kemuliaan, agama, keunggulan dan kekuatan di bumi. Barang siapa diantara mereka yang melakukan amal perbuatan amal perbuatan akhirat karena tujuan duniawi, maka di akhirat kelak ia tidak akan mendapatkan bagiannya” (Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad 5/134, Imam Al Hakim 3/318 dan perawi lain dari jalur Abi Al ‘Aliyah dari Abi bin Ka’ab R.A. “Saya katakana, ini hadits shahih”).

d. Riya’ menambah kesesatan.

Allah S.W.T berfirman,
“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit[23], lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al Baqarah : 9-10)

e. Riya’ menyebabkan kehancuran umat.

Nabi S.A.W bersabda,
“Allah akan menolong umat ini karena adanya orang orang yang lemah dengan doa dan shalat serta keikhlasan mereka.” (Shahih Al Targhib wa Al Targhib, 1/6)
Demikian pula Rasulullah S.A.W menetapkan bahwa keikhlasan karena Allah merupakan sebab kemenangan umat dari musuh musuh Islam. Tanpa ikhlas, maka itu riya’ dan nifak mungkin dapat dimanfaatkan oleh musuh musuh umat ini.

Hai orang orang Islam ! Sesungguhnya pelajaran Peperangan Badar Kubra selalu akan tersimpan di dalam hati orang yang ikhlas yang mau menunggu, selama mereka tidak mengubahnya.

Firman Allah dalam Al Qur’an,
“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya[620] agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (Al Anfaal : 45-47).

Ayat ini bertujuan untuk menjaga golongan orang orang beriman yang tidak henti hentinya memerangi musuh musuh Allah, dengan cara keluar berperang dengan kesombongan dan keangkuhan. Karena orang beriman tidak akan keluar berperang kecuali untuk menegakkan kalimat Allah.
Al Qurthubi mengatakan bahwa makna dari “orang-orang yang berbuat riya,” adalah orang yang (dengan sholatnya) memperlihatkan kepada manusia bahwa dia melakukan sholat dengan penuh ketaatan, dia sholat dengan penuh ketakwaan seperti seorang yang fasiq melihat bahwa sholatnya sebagai suatu ibadah atau dia sholat agar dikatakan bahwa ia seorang yang (melakukan) sholat. Hakekat riya’adalah menginginkan apa yang ada di dunia dengan (memperlihatkan) ibadahnya. Pada asalnya riya adalah menginginkan kedudukan di hati manusia. (al jami’ Li Ahkamil Qur’an juz XX hal 439)

Dari Abu Hurairoh bahwa telah berkata seorang penduduk Syam yang bernama Natil kepadanya,”Wahai Syeikh ceritakan kepada kami suatu hadits yang engkau dengar dari Rasulullah saw.’ Abu Hurairoh menjawab,’Baiklah. Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda,’Sesungguhnya orang yang pertama kali didatangkan pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid dan dia diberitahukan berbagai kenikmatannya sehingga ia pun mengetahuinya. Kemudian orang itu ditanya,’Apa yang telah engkau lakukan di dunia?’ Orang itu menjawab,’Aku telah berperang dijalan-Mu sehingga aku mati syahid.’ Dikatakan kepadanya,’Engkau berbohong, sesungguhnya engkau berperang agar engkau dikatakan seorang pemberani dan (gelar) itu pun sudah engkau dapatkan.’

Kemudian Allah memerintahkan agar wajah orang itu diseret dan dilemparkan ke neraka. Kemudian didatangkan lagi seorang pembaca Al Qur’an dan dia diberitahukan berbagai kenikmatan maka dia pun mengetahuinya. Dikatakan kepadanya,”Apa yang engkau lakukan di dunia?’ Orang itu menjawab,’Aku telah mempelajari ilmu dan mengajarinya dan aku membaca Al Qur’an karena Engkau.’

Maka dikatakan kepadanya,’Engkau berbohong sesungguhnya engkau mempelajari ilmu agar engkau dikatakan seorang yang alim dan engkau membaca Al Qur’an agar engkau dikatakan seorang pembaca Al Qur’an dan engkau telah mendapatkan (gelar) itu. Kemudian Allah memrintahkan agar wajahnya diseret dan dilemparkan ke neraka. Kemudian didatangkan lagi seorang yang Allah berikan kepadanya kelapangan (harta) dan dia menginfakkan seluruh hartanya itu dan dia diberitahukan berbagai kenikmatan maka dia pun mengetahuinya. Dikatakan kepadanya,”Apa yang engkau lakukan di dunia?’

Orang itu menjawab,’Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau sukai untuk berinfak didalamnya kecuali aku telah menginfakkan didalamnya karena Engkau.’ Maka dikatakan kepadanya,’Engkau berbohong sesungguhnya engkau melakukan hal itu agar engkau disebut sebagai seorang dermawan dan engkau telah mendapatkan (gelar) itu. Kemudian orang itu diperintahkan agar wajahnya diseret dan dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim)

Riya ini bisa muncul didalam diri seseorang pada saat setelah atau sebelum suatu ibadah selesai dilakukan. Imam Ghozali mengatakan bahwa apabila didalam diri seseorang yang selesai melakukan suatu ibadah muncul kebahagiaan tanpa berkeinginan memperlihatkannya kepada orang lain maka hal ini tidaklah merusak amalnya karena ibadah yang dilakukan tersebut telah selesai dan keikhlasan terhadap ibadah itu pun sudah selesai dan tidaklah ia menjadi rusak dengan sesuatu yang terjadi setelahnya apalagi apabila ia tidak bersusah payah untuk memperlihatkannya atau membicarakannya.

Namun apabila orang itu membicarakannya setelah amal itu dilakukan dan memperlihatkannya maka hal ini ‘berbahaya’ (Ihya Ulumudin juz III hal 324)

Ibnu Qudamah mengatakan,”Apabila sifat riya’ itu muncul sebelum selesai suatu ibadah dikerjakan, seperti sholat yang dilakukan dengan ikhlas dan apabila hanya sebatas kegembiraan maka hal itu tidaklah berpengaruh terhadap amal tersebut namun apabila sifat riya sebagai faktor pendorong amal itu seperti seorang yang memanjangkan sholat agar kualitasnya dilihat oleh orang lain maka hal ini dapat menghapuskan pahala.

Adapun apabila riya menyertai suatu ibadah, seperti seorang yang memulai sholatnya dengan tujuan riya’ dan hal itu terjadi hingga selesai sholatnya maka sholatnya tidaklah dianggap. Dan apabila ia menyesali perbuatannya yang terjadi didalam sholatnya itu maka seyogyanya dia memulainya lagi. (A Mukhtashar Minhajil Qishidin hal 209)

Sungguh suatu karunia yang besar ketika Allah memberikan kemudahan kepada anda untuk senantiasa melakukan sholat berjama’ah di musholla di saat orang-orang tengah asyik dengan tidurnya. Namun demikian anda perlu berhati-hati karena pada kondisi-kondisi seperti inilah terkadang setan mudah menghembuskan bisikan-bisikannya agar anda berbuat riya’.

Sedangkan keinginan anda untuk mengajak masyarakat di sekitar anda agar mengerjakan sholat shubuh berjama’ah di musholla melalui lisan seorang ustadz adalah perbuatan yang terpuji dikarenakan sholat shubuh di masjid atau musholla merupakan perintah yang sangat dianjurkan Allah swt kepada setiap muslim.

Bentuk keluar dengan sombong dan riya’ kepada manusia dan berpaling dari jalan Allah akan selalu hadir di depan pasukan orang beriman. Mereka melihat dengan mata kepala mereka keluarnya orang Quraisy pada hari Pertempuran Badar dengan kendaraan perangnya, jumlah pasukannya, baik yang berjalan maupun yang menunggang kuda, untuk mengulang kembali kemenangan Pertempuran Badar, di dengar oleh orang Arab dan selalu terus diperhitungkan. Akan tetapi riya’ ini cepat berakhir, berakibat buruk, dan cita citanya juga buruk. Riya’ menjadi suatu pungkasan. Orang orang musyrik telah menunjukkan riya’ dan keangkuhan.

Demikian pula mereka melihatnya pada saat yang berbahagia, ketika umat ini keluar untuk berperang. Akibatnya adalah kerugian dan kehinaan yang tidak akan dicabut oleh Allah sehingga ia bertaubat kepada Tuhan dan agamanya. Ketika itu orang orang Mukmin yang ikhlas sangat gembira dengan pertolongan Allah. Bukankah pertlolongan Allah itu dekat.
Namun, adapun kalanya kita perlu untuk  menceritakan berbagai aktifitas da’wah yang telah kita lakukan kepada orang lain agar dapat dijadikan contoh/teladan. tapi dalam hal ini juga harus disertai dengan kehati-hatian karena tidak jarang pada kasus seperti ini menjadikan seseorang manambah-nambah cerita dari yang sebenarnya, berelebih-lebihan atau menikmati setiap pujian yang diberikan orang lain kepadanya.

Sebelum menceritakan apa-apa yang telah kita lakukan di dalam da’wah kepada orang lain maka hendaklah kita mampu meraba kekuatan diri kita. Apabila hati kita tetap bersih, melihat semua manusia adalah kecil, memandang sama segala pujian, kecaman orang dan kita hanya berharap dengan menceritakan hal itu kelak orang lain akan mengikutinya atau akan mencintai kebaikan yang ada didalamnya maka hal ini dibolehkan bahkan dianjurkan selama jiwa kita bersih dari berbagai penyakitnya karena menjadikan orang mencintai kebaikan adalah suatu kebaikan.

Seperti yang diceritakan dari Utsman bin ‘Affan bahwa dia mengatakan,”Aku tidak pernah menyanyi, tidak berangan-angan dan tidak juga menyentuh kemaluanku dengan tangan kananku sejak aku membaiat Rasulullah saw.”
Atau seperti yang dikatakan Abu Bakar bin Abbas kepada putranya,”Wasapadalah engkau dari maksiat kepada Allah swt didalam ruangan ini. Sesungguhnya aku telah mengkhatamkan Al Qur’an di ruangan ini sebanyak 12.000 kali.”

Akan tetapi apabila diri kita lemah, tidak tahan dengan pujian orang lain, mudah muncul penyakit hati atau akan memunculkan riya didalamnya apabila menceritakan aktivitas da’wah kita itu maka lebih baik menahan diri dari menceritakannya meskipun menginginkan agar orang lain mengikutinya atau menyukai kebaikan yang ada di dalamnya.

Dan kalaupun ingin agar orang lain bisa mengikutinya dan mencintai kebaikan yang ada didalamnya dengan cara menceritakannya maka ceritakanlah aktivitas tersebut kepada mereka tanpa menisbahkannya kepada diri kita, demi menghindari adanya riya’ didalamnya.

Adapun beberapa kiat untuk menghilangkan penyakit riya’, menurut Imam Ghozali adalah :

1. Menghilangkan sebab-sebab riya’, seperti kenikmatan terhadap pujian orang lain, menghindari pahitnya ejekan dan anusias dengan apa-apa yang ada pada manusia, sebagaimana hadits Rasulullah saw dari Abu Musa berkata,”Pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw dan mengatakan,’Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang orang yang berperang dengan gagah berani, orang yang berperang karena fanatisme dan orang yang berperang karena riya’ maka mana yang termasuk dijalan Allah? Maka beliau saw bersabda,’Siapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah maka dia lah yang berada dijalan Allah.” (HR. Bukhori)

2. Membiasakan diri untuk menyembunyikan berbagai ibadah yang dilakukannya hingga hatinya merasa nyaman dengan pengamatan Allah SWT terhadap berbagai ibadahnya itu.

3. Berusaha juga untuk melawan berbagai bisikan setan untuk berbuat riya pada saat mengerjakan suatu ibadah.

Wallahu Alam

Posted in materi tarbiyahwith 2 Comments →

TAUHID02.01.10

Tauhid adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah S.W.T.

I. Kedudukan Tauhid dalam Islamislam_icon

Tauhid adalah dasar Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar, dan syarat diterimanya amal perbuatan disamping harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah S.A.W. Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari kalimat syahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim.

Dalil Al-Qur’an tentang keutamaan dan keagungan Tauhid

QS. An-Nahl : 36
“Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”

QS. At Taubah : 31
“Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang maha esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”

QS. Az Zumar : 2-3
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya, Ingatlah, hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik)”

QS. Al Bayinah : 5
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”

praising-man
II. Pembagian Tauhidislam_icon

Rububiyah (mengesakan Allah dengan segala tindakanNya)

Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara serta menjaga seluruh Alam Semesta.

QS. Az Zumar : 62
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu”

Uluhiyah/Ibadah (mengesakan Allah dalam semua perbuatan)

Beriman bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagiNya. Beriman terhadap Uluhiyah Allah merupakan konsekuensi dari keimanan terhadap RububiyahNya.

QS. Al Imran : 18
“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain dia yang maha perkasa lagi maha bijaksana”

Asma wa Sifat

Beriman bahwa Allah memiliki nama dan sifat baik (asma’ul husna) yang sesuai dengan keagunganNya. Umat Islam mengenal 99 asma’ul husna yang merupakan nama sekaligus sifat Allah.

Tidak ada Tauhid Mulkiyah

Tidak ada istilah Tauhid Mulkiyah ataupun Tauhid Hakimiyah karena istilah ini adalah istilah yang baru. Apabila yang dimaksud dengan Hakimiyah itu adalah kekuasaan Allah, maka hal ini sudah masuk ke dalam kandungan Tauhid Rububiyah. Apabila yang dikehendaki dengan hal ini adalah pelaksanaan hukum Allah dimuka bumi, maka hal ini sudah masuk ke dalam Tauhid uluhiyah.

III. Hidup di bawah naungan Tauhid.islam_icon

Keberadaan Allah hanya bisa kita akui bila kita memiliki landasan Tauhid yang benar. Allah memang tidak menampakkan wujudnya, tapi Allah dengan segala sifatnya dapat kita rasakan keberadaanNya.

Kejelasan Tauhid akan tergambar dari kalimat Syahadat yang kita ucapkan. Dari kalimat ini akan terjalin hubungan yang harmonis, penuh kecintaan kepada Allah. Kecintaan kepada Allah akan melahirkan pengorbanan kepadaNya untuk berjuang di jalanNya, melaksanakan segala perintahNya, menjauhi segala laranganNya.

Zat Allah lebih besar dari apa yang kita perkirakan. Manusia tidak akan sanggup memikirkan zat Allah.

QS. 112 : 1-2
“katakanlah Dialah Allah, yang maha esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu”

QS. 6 : 103
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah yang maha halus lagi maha mengetahui”

Tauhid yang murni hanya akan tercapai bila kita mengenal hakekat penciptaan kita, begitu juga dengan zat yang menciptakan kita. Betapa indah hidup di bawah naungan kasih sayang dan belaian Allah. Namun banyak diantara kita sulit untuk memurnikan Tauhidnya, karena selain tidak kenal dengan Allah, mereka masih menyekutukan Allah dengan tandingan-tandingan lainnya.

Kita bisa mengenal Allah dengan kreasiNya dengan kasat mata, seperti, mata dan hidung. Bisakah kita membuat mata dan hidung yang senantiasa membuat kita melihat dan bernafas setiap hari?

namun secara tekstual, kreasi Allah itu adalah Al-Qur’an yang merupakan pedoman hidup kaum muslimin. seperti yang dikatakan Sayyib Qurb dalam tafsir fi-zilalnya “Hidup dibawah naungan Al-Qur’an merupakan suatu kenikmatan. Kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah mereguknya. Kenikmatan yang mengangkat, memberkati dan mensucikan umur kehidupan…”. Lantunan ayat suci Al-Qur’an saja telah membuat hati tenteram, apalagi hikmah yang terkandung di dalamnya. so, lets go back to Holy Qur’an. Wallahu A’lam.

islam_icon

Posted in materi tarbiyahwith No Comments →

Al Mawani’u Makrifatullah (Penghalang dalam mengenal Allah)01.17.10

Jauh di dalam hati, seorang muslim selalu ingin dekat dengan Allah S.W.T, merasakan nikmatnya beribadah dan surganya sebagai imbalan. namun syaitan selalu menggoda dan menghalang-halangi untuk menggoyahkan iman hingga membuat seorang muslim lupa akan tujuannya untuk mengenal dan selalu dekat dengan Allah S.W.T.syaitan

Halangan-halangan tersebut muncul dalam bentuk sifat-sifat, antara lain :

I. Hasyiah > Sifat yang berasal dari penyakit syahwat / nafsu

1. Fasiq yaitu orang-orang yang melanggar janji Allah, memutuskan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk menghubungkannya dan mereka melakukan bencana di atas muka bumi.

  • Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq. (QS. 59 : 19)
  • Sesungguhnya Allah tidak malu menjadikan nyamuk untuk menjadi perumpamaan atau benda yang lebih hina daripadanya. Adapun orang-orang yang beriman mengetahui bahawa yang demikian itu suatu kebenaran dari Tuhan tetapi orang-orang yang kafir berkata: Apakah maksud Allah dengan perumpamaan ini (QS. 2 : 26-27)

2. Sombong adalah orang yang hatinya ingkar dan membantah terhadap ayat-ayat Allah dan mereka tidak beriman kepada Allah.

  • Orang-orang yang tidak beriman kepada hari Akhirat, hati mereka indkar dan merekaitu orang-orang yang sombong (QS. 16:22)
  • Allah telah menghalau Iblis dari syurga kerana bersikap sombong dan tidak mahu tunduk kepada arahan Allah. (QS. 7:12)
  • Orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa keterangan yang sampai kepada mereka. Amat besarlah kebencian di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman (terhadap mereka). Demikianlah Allah mengecap/ menutup tiap-tiap hati orang yang sombong lagi ganas. (QS. 40:35)
  • Orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa keterangan QS. (40:56)

3. Zalim

  • Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang diberikan peringatan dengan ayat-ayat tuhannya kemudian dia berpaling daripadanya? sesungguhnya kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa(QS. 32:22)
  • Siapakah yang terlebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diseru kepada Islam ? Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 61:7)

4. Dusta

  • Dalam hati mereka ada penyakit (syak wasangka) lalu ditambah Allah penyakit itu dan untuk mereka itu siksa yang pedih kerana mereka berdusta. (QS. 2:10)
  • Kecelakaan bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah (QS. 77:9-19)

5. Banya berbuat maksiat / Banyak dosa

  • Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus (QS. Al-Qiyamah : 5)
  • Berkarat hati mereka kerana dosa yang mereka lakukan. (QS. 83:14)

Semua sifat-sifat yang disebutkan di atas tadi akan berakhir dengan kemurkaan dari Allah s.w.t. Walau bagaimanapun sifat-sifat ini boleh dirawati dan diobati dengan usaha yang penuh mujahadah, bersungguh-sungguh dalam niat, perbuatan dan ucapan dalam menjalankan semua perintahNya.

little-demonII. Penyakit Ragu / Syubhat

1. Kebodohan (Jahil)

  • Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya. (QS. 17 : 36)
  • Orang-orang yang tidak mengambil iktibar dari wahyu (QS. 39-65)

2. Ragu-ragu

Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Qur’an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat. (QS. 22 : 55)

3. Menyimpang

Oleh kerana mereka melanggar perjanjian , Allah kutuk mereka dan menjadikan hati mereka keras sehingga mereka mengubah kalimat Allah. (QS. 5:13)

4. Lalai
Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’raf : 179)

Ragu akan bercokol dihati mereka yang tidak pernah mau belajar lebih dalam bagaimana islam sebenarnya. karena hanya dengan ilmu, kita akan bisa menghilangkat penyakit ragu ini. dan tentunya, kita harus mencari ilmu kepada orang yang tepat, yang semakin mendekatkan kita kepada Allah, bukan yang menjauhinya. dan janganlah ragu dengan pertolongan Allah, mintalah pada-Nya agar kita termasuk hamba-Nya yang Shaleh. Wallahu Alam

Posted in materi tarbiyahwith 3 Comments →

IKHLAS04.12.09

IKHLAS

Makna Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (nampi beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.

Ciri Orang Yang Ikhlas

1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”

Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.

Al-Qur’an telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang munafik, membuka kedok dan kebusukan orang-orang munafik dengan berbagai macam cirinya. Di antaranya disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 44-45, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.”

2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)

Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun..

Berbuat Ikhlas juga bukan berarti tidak menunjukkan perbuatannya kepada orang lain. jika dia menunjukkan perbuatan baiknya kepada orang lain agar bisa dijadikan pelajaran oleh orang lain, maka bisa jadi dia Ikhlas, tetapi apabila ia tidak menunjukkan perbuatannya pada orang lain dan ia berbangga diri atau merasa soleh, bahwa ia telah berbuat sesuatu yang baik, dan merasa lebih tinggi dari pada orang lain, itu bukan merupakan perbuatan yang ikhlas.

seperti kasus pemberian bantuan baru-baru ini terhadap korban situ gintung, Karena tragedi tersebut berada pada masa kampanye PEMILU 2009, maka berbondong-bondonglah partai-partai memberikan bantuan terhadap korban tragedi situ gintung dengan membuat posko yang penuh dengan atribut-atribut partanya. Dan ada sebuah cerita menarik, yaitu sebuah partai yang menyatakan tidak ingin memasang atribut partainya di tempat kejadian, dengan alasan mereka tidak ingin momen ini dijadikan kampanye terselubung untuk partai mereka, bagus juga sih. Namun anehnya mereka menceritakan hal ini kepada media, dan dengan bangganya seolah-olah dia tidak mengharapkan balasan apapun dari perbuatan ini. Padahal justru pada saat dia menceritakan hal ini kepada media, partai tersebut sedang kampanye, mengkampanyekan bahwa partainya baik, tidak menari-nari di atas penderitaan orang lain. Wallahu A’lam.

Kedudukan Ikhlas

Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”

Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Abdullah bin Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat.

ikhlasRasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata: Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga karenanya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya.” (HR Bukhari Muslim). Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim ? Dan sebaliknya amal perbuatan yang besar nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya.

tidak ada yang mampu melihat keikhlasan seorang manusia, bahkan syaitan dan malaikat pun tidak bisa, hanya Allah yang mampu mengetahui keikhlasan seseorang dalam melakukan perbuatannya.

Buah dari Ikhlas

Seseorang yang telah beramal ikhlas karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya.

Allah berfirman tentang perkataan Iblis laknatullah alaihi yang artinya: “Iblis menjawab: Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Qs. Shod: 82-83).

Buah lain yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas adalah orang tersebut akan Allah jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya  “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas. “ ( Qs. Yusuf : 24).

introspeksi diri dan perbaikilah niat kita selama ini, semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas.

Posted in materi tarbiyahwith No Comments →

Ma’rifatul Islam/Mengenal Islam02.14.09

baca-quran

PENGERTIAN ISLAM

Dari segi bahasa, Islam berasal dari kata aslama yang berakar dari kata salama. Kata Islam merupakan bentuk mashdar (infinitif/kata kerja asli) dari kata aslama.

Ditinjau dari segi bahasanya yang dikaitkan dengan asal katanya, Islam memiliki beberapa pengertian, diantaranya adalah:

1.‘salm’ yang berarti damai.

2. ‘aslama’ yang berarti menyerah.

3.istaslama–mustaslimun : penyerahan total kepada Allah.

4. ‘saliim’ yang berarti bersih dan suci.

5. ‘salam’  yang berarti selamat dan sejahtera.

1. Salm/Damai

Kata ‘salm’ dalam ayat di atas memiliki arti damai atau perdamaian. Dan ini merupakan salah satu makna dan ciri dari Islam, yaitu bahwa Islam merupakan agama yang senantiasa membawa umat manusia pada perdamaian.

Al-Qur’an Allah berfirman: (QS. 22 : 39)

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.”

2. Aslama/Menyerah

Seorang pemeluk Islam merupakan seseorang yang secara ikhlas menyerahkan jiwa dan raganya hanya kepada Allah SWT. Penyerahan diri seperti ini ditandai dengan pelaksanaan terhadap apa yang Allah perintahkan serta menjauhi segala larangan-Nya.

3. istaslama–mustaslimun/penyerahan total kepada Allah.

sebagai seorang muslim, kita benar-benar diminta untuk secara total menyerahkan seluruh jiwa dan raga serta harta atau apapun yang kita miliki, hanya kepada Allah SWT. Dimensi atau bentuk-bentuk penyerahan diri secara total kepada Allah adalah seperti dalam setiap gerak gerik, pemikiran, tingkah laku, pekerjaan, kesenangan, kebahagiaan, kesusahan, kesedihan dan lain sebagainya hanya kepada Allah SWT. Termasuk juga berbagai sisi kehidupan yang bersinggungan dengan orang lain, seperti sisi politik, ekonomi, pendidikan, sosial, kebudayaan dan lain sebagainya, semuanya dilakukan hanya karena Allah dan menggunakan manhaj Allah.

4. Saliim/Bersih dan Suci

Pada hakekatnya, ketika Allah SWT mensyariatkan berbagai ajaran Islam, adalah karena tujuan utamanya untuk mensucikan dan membersihkan jiwa manusia.

Allah berfirman: (QS. 5 : 6)

“Allah sesungguhnya tidak menghendaki dari (adanya syari’at Islam) itu hendak menyulitkan kamu, tetapi sesungguhnya Dia berkeinginan untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

5. Salam/Selamat dan Sejahtera.

Maknanya adalah bahwa Islam merupakan agama yang senantiasa membawa umat manusia pada keselamatan dan kesejahteraan.

Secara Istilah, berarti :

Islam adalah ‘ketundukan seorang hamba kepada wahyu Ilahi yang diturunkan kepada para nabi dan rasul khususnya Muhammad SAW guna dijadikan pedoman hidup dan juga sebagai hukum/ aturan Allah SWT yang dapat membimbing umat manusia ke jalan yang lurus, menuju ke kebahagiaan dunia dan akhirat.

Karakteristik Islam

Sebagai agama terakhir yang sempurna, Islam memiliki karakteristik yang membedakannya dengan agama-agama yang terdahulu. Diantara karakteristik Islam adalah:

Pertama : Robbaniyah

Karakter pertama dinul Islam, adalah bahwa Islam merupakan agama yang bersifat robbaniyah, yaitu bahwa sumber ajaran Islam, pembuat syari’at dalam hukum (baca; perundang-undangan) dan manhajnya adalah Allah SWT, yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW, baik melalui Al-Qur’an maupun sunnah.

Kedua : Syumuliyah / universal

Artinya bahwa karakteristik Islam adalah bahwa Islam merupakan agama yang universal yang mencakup segala aspek kehidupan manusia. Menyentuh segenap dimensi, seperti politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan dsb. Mengatur manusia dari semenjak bangun tidur hingga tidur kembali. Merambah pada pensyariatan dari semenjak manusia dilahirkan dari perut ibu, hingga ia kembali ke perut bumi, dan demikian seterusnya.

Imam Syahid Hasan Al-Banna mengemukakan:

“Islam adalah sistem yang syamil ‘menyeluruh’ mencakup semua aspek kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, moral dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu pengetahuan dan hukum, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran. Sebagaimana juga ia adalah aqidah yang murni dan ibadah yang benar, tidak kurang tidak lebih.”

Ketiga : Tawazun/ Seimbang

Karakter ketiga agama Islam adalah bahwa Islam merupakan agama yang tawazuntawazun ini Islam menginginkan tidak adanya ‘ketertindasan’ satu aspek lantaran ingin memenuhi atau memuaskan aspek lainnya, sebagaimana yang terdapat dalam agama lain. Seperti tidak menikah karena menjadi pemuka agamanya, atau meninggalkan dunia karena ingin mendapatkan akhirat. Konsep Islam adalah bahwa seorang muslim yang baik adalah seorang muslim yang mempu menunaikan seluruh haknya secara maksimal dan merata. Hak terhadap Allah, terhadap dirinya sendiri, terhadap istri dan anaknya, terhadap tetangganya dan demikian seterusnya. (seimbang). Artinya Islam memperhatikan aspek keseimbangan dalam segala hal; antara dunia dan akhirat, antara fisik manusia dengan akal dan hatinya serta antara spiritual dengan material, demikian seterusnya. Pada intinya dengan

Keempat : Insaniyah

Karakter yang keempat adalah bahwa Islam merupakan agama yang bersifat insaniyah. Artinnya bahwa Islam memang Allah jadikan pedoman hidup bagi manusia yang sesuai dengan sifat dan unsur kemanusiaan. Islam bukan agama yang disyariatkan untuk malaikat atau jin, sehingga manusia tidak kuasa atau tidak mampu untuk melaksanakannya. Oleh karenanya, Islam sangat menjaga aspek-aspek ‘kefitrahan manusia’, dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang terdapat dalam diri manusia itu sendiri. Sehingga dari sini, Islam tidak hanya agama yang seolah dikhususkan untuk para tokoh agamanya saja (baca ; ulama). Namun dalam Islam semua pemeluknya dapat melaksanakan Islam secara maksimal dan sempurna. Bahkan bisa jadi, orang awam akan lebih tinggi derajatnya di hadapan Allah dari pada seorang ahli agama. Karena dalam Islam yang menjadi standar adalah ketakwaannya kepada Allah.

Kelima : Al-Adalah / Keadilan

Karekteristik Islam berikutnya, bahwa Islam merupakan agama keadilan, yang memiliki konsep keadilan merata bagi seluruh umat manusia, termasuk bagi orang yang non muslim, bagi hewan, tumbuhan atau makhluk Allah yang lainnya. Keadilan merupakan inti dari ajaran Islam, apalagi jika itu menyangkut orang lain. Allah berfirman: (QS. 5 : 8)

“Berbuat adillah kalian, karena keadilan itu dapat lebih mendekatkan kalian pada ketaqwaan. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kalian kerjakan.”

Inilah beberapa karakteristik terpenting dari agama Islam. Di luar kelima karakteristik ini, sesungguhnya masih banyak karakteristik Islam lainnya. Kelima hal di atas hanyalah sebagai contoh saja.
Keuniverselan Islam

Islam merupakan pedoman hidup yang universal, yang mencakup segala aspek kehidupan manusia dalam semua dimensi waktu, tempat dan sisi kehidupan manusia.

1. Mencakup seluruh dimensi waktu

Artinya bahwa Islam bukanlah suatu agama yang diperuntukkan untuk umat manusia pada masa waktu tertentu, sebagaimana syariat para nabi dan rasul yang terdahulu. Namun Islam merupakan pedoman hidup yang abadi, hingga akhir zaman. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 21:107):

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

2. Mencakup seluruh dimensi ruang

Maknanya adalah bahwa Islam merupakan pedoman hidup yang tidak dibatasi oleh batasan-batasan geografis tertentu, seperti hanya disyariatkan untuk suku atau bangsa tertentu. Namun Islam merupakan agama yang disyariatkan untuk seluruh umat manusia, dengan berbagai bangsa dan sukunya yang berbeda-beda. Allah SWT berfirman (QS. 34 :28)

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”

Dari ayat di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Al-Qur’an tidak hanya diturunkan untuk orang Arab secara khusus, namun juga untuk orang Eropa, Rusia, Asia, Cina dan lain sebagainya.

3. Mencakup semua sisi kehidupan manusia.

Maknanya adalah bahwa Islam merupakan pedoman hidup manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, dan tidak hanya agama yang mengatur peribadahan saja sebagaimana yang banyak difahami oleh kebanyakan manusia pada saat ini. Sesungguhnya Islam mencakup seluruh aspek dan dimensi kehidupan manusia, diantaranya adalah:Peribadahan, Akhlak (Etika/ Tata krama/ Budi Pekerti), Ekonomi, Politik, Sosial, Pendidikan.

Menjadi Muslim Kaffah

Menjadi Muslim Kaffah berarti Masuk ke dalam segala syariat dan hukum Islam secara keseluruhan, bukan berislam sebagian dan mengambil selain syariat Islam untuk sebagian lainnya. Jika seorang muslim melaksanakan Islam sebagian seraya melaksanakan selain Islam pada sebagian lainnya, itu berarti dia mengikuti langkah-langkah syaitan yang terkutuk. Firman Allah SWT :

“Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kepada Islam secara menyeluruh. Dan  janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh  yang nyata bagi kamu.”
(Qs al-Baqarah [2]: 208).

Namun, Seorang muslim kaffah adalah manusia yang mendunia, artinya tidak mengasingkan diri atau tidak cuek terhadap urusan masyarakat, tapi sebaliknya harus terjun dalam kehidupan dunia, peduli terhadap urusan masyarakat dan dunia, dengan tetap tidak melupakan akhirat sebagai tujuannya (ultimate goal) sebagaimana firman Allah SWT.

“Dan carilah pada apa yang telah dikaruniakan Allah kepadamu (berupa kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi…”
(Qs. al-Qashshash [28]: 77)

Selanjutnya, seorang muslim kaffah haruslah mampu menguasai dirinya, yakni seorang “master” yang mampu mengendalilkan hawa nafsunya. Pengendalian terhadap ambisi dan dorongan-dorongan hawa nafsu merupakan salah satu kriteria seorang muslim yang sangat rindu mencapai derajat kaffah. Dan kunci untuk pengendalian hawa nafsu, terletak pada pikiran, keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan kita sendiri.

Posted in materi tarbiyahwith No Comments →

  • You Avatar