TAUHID
Tauhid adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah S.W.T.
I. Kedudukan Tauhid dalam Islam![]()
Tauhid adalah dasar Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar, dan syarat diterimanya amal perbuatan disamping harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah S.A.W. Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari kalimat syahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim.
Dalil Al-Qur’an tentang keutamaan dan keagungan Tauhid
QS. An-Nahl : 36
“Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”
QS. At Taubah : 31
“Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang maha esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”
QS. Az Zumar : 2-3
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya, Ingatlah, hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik)”
QS. Al Bayinah : 5
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”

II. Pembagian Tauhid![]()
Rububiyah (mengesakan Allah dengan segala tindakanNya)
Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara serta menjaga seluruh Alam Semesta.
QS. Az Zumar : 62
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu”
Uluhiyah/Ibadah (mengesakan Allah dalam semua perbuatan)
Beriman bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagiNya. Beriman terhadap Uluhiyah Allah merupakan konsekuensi dari keimanan terhadap RububiyahNya.
QS. Al Imran : 18
“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain dia yang maha perkasa lagi maha bijaksana”
Asma wa Sifat
Beriman bahwa Allah memiliki nama dan sifat baik (asma’ul husna) yang sesuai dengan keagunganNya. Umat Islam mengenal 99 asma’ul husna yang merupakan nama sekaligus sifat Allah.
Tidak ada Tauhid Mulkiyah
Tidak ada istilah Tauhid Mulkiyah ataupun Tauhid Hakimiyah karena istilah ini adalah istilah yang baru. Apabila yang dimaksud dengan Hakimiyah itu adalah kekuasaan Allah, maka hal ini sudah masuk ke dalam kandungan Tauhid Rububiyah. Apabila yang dikehendaki dengan hal ini adalah pelaksanaan hukum Allah dimuka bumi, maka hal ini sudah masuk ke dalam Tauhid uluhiyah.
III. Hidup di bawah naungan Tauhid.![]()
Keberadaan Allah hanya bisa kita akui bila kita memiliki landasan Tauhid yang benar. Allah memang tidak menampakkan wujudnya, tapi Allah dengan segala sifatnya dapat kita rasakan keberadaanNya.
Kejelasan Tauhid akan tergambar dari kalimat Syahadat yang kita ucapkan. Dari kalimat ini akan terjalin hubungan yang harmonis, penuh kecintaan kepada Allah. Kecintaan kepada Allah akan melahirkan pengorbanan kepadaNya untuk berjuang di jalanNya, melaksanakan segala perintahNya, menjauhi segala laranganNya.
Zat Allah lebih besar dari apa yang kita perkirakan. Manusia tidak akan sanggup memikirkan zat Allah.
QS. 112 : 1-2
“katakanlah Dialah Allah, yang maha esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu”
QS. 6 : 103
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah yang maha halus lagi maha mengetahui”
Tauhid yang murni hanya akan tercapai bila kita mengenal hakekat penciptaan kita, begitu juga dengan zat yang menciptakan kita. Betapa indah hidup di bawah naungan kasih sayang dan belaian Allah. Namun banyak diantara kita sulit untuk memurnikan Tauhidnya, karena selain tidak kenal dengan Allah, mereka masih menyekutukan Allah dengan tandingan-tandingan lainnya.
Kita bisa mengenal Allah dengan kreasiNya dengan kasat mata, seperti, mata dan hidung. Bisakah kita membuat mata dan hidung yang senantiasa membuat kita melihat dan bernafas setiap hari?
namun secara tekstual, kreasi Allah itu adalah Al-Qur’an yang merupakan pedoman hidup kaum muslimin. seperti yang dikatakan Sayyib Qurb dalam tafsir fi-zilalnya “Hidup dibawah naungan Al-Qur’an merupakan suatu kenikmatan. Kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah mereguknya. Kenikmatan yang mengangkat, memberkati dan mensucikan umur kehidupan…”. Lantunan ayat suci Al-Qur’an saja telah membuat hati tenteram, apalagi hikmah yang terkandung di dalamnya. so, lets go back to Holy Qur’an. Wallahu A’lam.
![]()

